Gereja Theresia

Renungan Pagi Senin, 30 Oktober 2017

Renungan

Renungan Pagi Senin, 30 Oktober 2017

Romo Fredy Jehadin, SVD

Renungan

Marilah hari ini kita merenungkan kesucian hidup berkeluarga. Kita sering heran mengapa sekarang ini tidak sedikit keluarga Kristiani yang tidak bisa hidup damai.Selalu ada cekcok, selalu ada konflik suami istri. Kita heran padahal waktu menikah dulu mereka memilih sendiri pesangannya. Katanya sudah amat cinta satu sama lain, bahkan ada pra wedding yang foionya masuk kedalam undangan dan buku Misa Perkawinannya. Misa Perkawinannya juga amat meriah, dengan paduan suara terkenal dan bunga amat mahal dan bagus. Akan tetapi setelah sekian tahun, pasangan suami itu saling berkelahi, adu mulut dan bahkan mungkin adu tangan.Kita tentu juga sangat bersyukur karena banyak juga keluarga Kristiani yang bahagia. Meski banyak gejolak, pasangan suami istri itu setia satu sama lain. Anak anak mereka menjadi buah hati yang baik, sukses dan semakin memperdalam cinta satu sama lain. Keluarga non Kristen pun banyak yang hidup bahagia seperti itu.Pertanyaannya, apabila keluarga keluarga non Kristiani pun dapat berbahagia seperti itu, lantas dimanakah kekhasan dan keindahan keluarga Kristiani?Rasul Paulus melukiskan dengan indah panggilan hidup dan kesucian hidup berkeluarga yaitu, menjadi tanda dan sarana dari hubungan Kristus dengan Gereja-Nya yang tak terceraikan.”Rahasia ini sungguh besar!Yang Kumaksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.” Inilah makna perkawinan Kristiani, yaitu antara Kristus dengan orang yang sudah menerima sakramen baptis, itu artinya pasangan suami istri Kristiani menghayati hidup berkeluarga bukan sekedar saling mencintai, tetapi karena menyadari menghayati kasih Kristus yang begitu agung kepada Gereja-Nya. Dan pasangan ini saling disempurnakan oleh kasih Kristus kepada seluruh Tubuh-Nya, yakni seluruh Gereja. Maka, para Bapa Konsili Vatikan II juga menyebut keluarga sebagai Gereja keluarga atau Gereja rumah tangga atau ecclesia domestica, seperti disebut dalam Lumen Gentium artikel 11.Pada Injil hari ini perumpamaan tentang biji dan ragi dipakai Yesus untuk mengajar tentang Kerajaan Allah, bagaimana Allah meraja. Pernahkah anda mengamati pertumbuhan suatu biji? Semakin kita amati dan kita nantikan, sepertinya tumbuhnya lama sekali.Namun kalau kita tinggal beberapa hari, tahu tahu sudah bertunas. Bagaimana pertumbuhan itu kita tidak tahu. Yang jelas bahwa biji itu berubah menjadi tumbuhan kecil, yang tadinya keras, kecil, setelah disemai menjadi tanaman yang mengeluarkan tunas dan semakin besar.Demikian juga tentang cara kerja ragi. Adonan tepung ditaburi ragi lalu dicampur sampai rata kemudian ditutup. Setelah beberapa saat, adonan mulai mengembang dan empuk. Kapan dan bagaimana terjadinya sulit untuk diamati, sebab jika adonan tersebut dibuka tutup, selalu dilihat, maka akan terganggu prosesnya. Kemungkinan besar, ragi tidak bekerja dengan baik.Ternyata, baik biji maupun ragi, walau tidak kelihatan cara kerjanya namun tetap bekerja dan berubah diri. Tidak hanya mengubah dirinya, namun juga mengubah yang lain juga.Bila Kerajaan Allah diumpamakan seperti biji dan ragi, kiranya yang mau dikatakan adalah bahwa walau disekitar kita banyak kejahatan, bencana alam, ketidakjujuran, ketidakadilan, dan sebagainya, Allah tetap berkarya. Bagaimana berkarya-Nya memang tidak jelas, tidak nampak, namun pasti berkarya.

Butir Permenungan

Dalam keheningan seperti saat ini, dimana kita meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan Sabda Allah, kiranya suara Tuhan akan didengar dengan lebih jelas.Untuk itulah saat hening dalam hidup kita sungguh penting, supaya kita tidak disibukkan dan dilelahkan oleh kebisingan “dunia”, orang orang disekitar kita, pekerjaan kita, acara televisi, handphone dan sebagainya.Apakah kita rela meluangkan waktu sebentar untuk mendengarkan suara Tuhan didalam hati kita? Pasti biji dan ragi dalam diri kita akan bekerja dengan lebih baik.Nilai nilai Kerajaan Allah seperti cinta kasih, kesetiaan, kejujuran, pengampunan, kebenaran, keadilan dan sebagainya, yang semula kecil dan tidak berarti, namun bila kita tekun dan setia menghayati dan mewartakan nilai nilai itu dalam iman akan Tuhan, maka itu akan mengubah hidup kita menjadi lebih baik.

Selamat beraktivitas di hari Selasa ini. Tuhan memberkati.


Siraman Rohani oleh Rm. Fredy Jehadin, SVD di Seminari Tinggi Bomana, Keuskupan Agung Port Moresby,

Comments

comments