Gereja Theresia

Renungan Pagi Rabu, 11 Oktober 2017

Renungan

Renungan Pagi Rabu, 11 Oktober 2017

Romo Fredy Jehadin, SVD

Renungan

Renungan Rabu 11 Oktober 2017
Oleh : Albertus Joseph Noegroho

Kebutuhan untuk berdoa dan mendoakan orang pada zaman sekarang ini terasa semakin perlu. Dimasa yang penuh dengan persaingan, ketidak pastian dan yang ditandai dengan egoisme ini manusia perlu peneguhan dan mendapatkan jaminan. Manusia tentu ingin bertahan ditengah situasi hidup yang demikian.Sayangnya, banyak orang mencarinya lewat ilmu pengetahuan dan dengan mengumpulkan harta sebanyak banyaknya. Padahal seringkali justru disanalah timbul banyak persoalan. Alih alih semakin diteguhkan dan beroleh kepastian, orang malah semakin jauh dari Tuhan dan sesama. Ilmu pengetahuan dan kekayaan bukanlah jawaban. Jika demikian cara apakah yang perlu ditempuh agar kita beroleh peneguhan? Jawabannya adalah berdoa. Doalah sumber kekuatan, dan peneguhan. Doalah yang memberi jaminan karena didalamnya ada harapan.Hari ini kita mendengarkan Injil tentang doa Bapa Kami versi Injil Lukas (11: 1-4). Kita percaya bahwa doa yang penuh kuasa dan refleksi mendalam ini diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri ketika para murid meminta-Nya supaya mengajarkan sebuah doa. Para murid memerlukan sebuah doa karena mereka telah menyaksikan betapa doa telah memberikan kekuatan dan kuasa dalam kehidupan Yesus.Doa “Bapa Kami ” adalah doa inti yang diajarkan Yesus sendiri. Setiap kata dalam doa “Bapa Kami” bisa menjadi permenungan tersendiri. Namun disini, mari kita renungkan satu kata pertama yang paling besar pengaruhnya yaitu: ” Bapa “, Tuhan tidak lagi disapa dengan nama nama yang asing, atau dengan kata ganti yang menunjukkan seolah olah Tuhan itu jauh. Sebutan ” Bapa ” mengantar manusia berada tepat di pangkuan Bapa, seperti anak di pangkuan ayahnya, yang kuat tetapi penuh kasih untuk menghidupi, membimbing dan melindungi, ia hadir disini bersama kita. Panggilan ” Bapa ” juga menghancurkan tembok pembatas antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi. Tuhan bukan hanya milik bangsa tertentu, melainkan milik setiap orang.Kita semua yang telah mengimani Kristus, telah diangkat dalam roh oleh Roh Kudus untuk bersama sama menjadi anak anak Bapa. Konsekuensinya adalah kita semua bersatu sebagai saudara dalam satu Bapa yaitu Bapa di Surga. Yesus, Putra Bapa, menjadi Saudara sulung bagi kita. Dan sebagai anak, kita membawa sifat bawaan dari Bapa Ilahi, yaitu kasih. Kasih inilah yang menjadi bukti nyata bahwa kita adalah anak anak Bapa. Kasih – Nya sungguh agung atas kita dan kesetiaan – Nya kekal untuk selama lamanya. Tugas kita sekarang adalah mewartakan kasih itu kepada semua orang, agar semakin banyak orang yang diselamatkan dan dipersatukan dengan Bapa.

Butir Permenungan

Yesus mengajarkan doa yang lebih dahulu mengedepankan kehendak Bapa, baru dilanjutkan permohonan kita. Dengan berdoa “dikuduskan nama-Mu” dan “datanglah kerajaan – Mu”, kita mohon agar Bapa menyatakan kebaikkan-Nya dan kemahakuasaan-Nya berdaya guna didunia ini. Pengudusan nama Allah dan penegakan kerajaan-Nya itu harus menjadi fokus hidup kita. Doa kita tidak boleh membelokkan kehendak Allah agar sesuai keinginan kita, tetapi menyelaraskan kemauan kita dengan kehendak – Nya. Dengan itu permohonan kita akan kebutuhan pokok sehari hari menjadi pas. Kita mohon kepada Bapa, Pencipta dan Pemelihara segala makhluk ciptaan, makanan demi mempertahankan hidup dimasa sekarang. Kita mohon kepada Putra, Juru Selamat dan Penebus dosa, pengampunan atas kesalahan kesalahan dimasa lalu. Kita mohon kepada Roh Kudus, Penghibur, Penerang, dan Pembimbing, perlindungan dari pencobaan yang siap menghadang perjalanan hidup kita dimasa mendatang.Dan Yesus mengajar kita untuk menaruh semua kebutuhan pokok dari seluruh periode waktu hidup kita dihadapan Bapa, Putra dan Roh Kudus.Injil mengingatkan kita kembali bahwa berdoa tidak mengenal situasi hidup, tetapi harus terus menerus dilakukan selama kita masih bernafas. Karena , doa adalah nafas hidup kita.

Selamat beraktivitas di hari Rabu ini. Tuhan memberkati.


Siraman Rohani oleh Rm. Fredy Jehadin, SVD di Seminari Tinggi Bomana, Keuskupan Agung Port Moresby,

Comments

comments