Gereja Theresia

Renungan Pagi Minggu, 17 September 2017

Renungan

Renungan Pagi Minggu, 17 September 2017

Romo Fredy Jehadin, SVD

Renungan

Renungan Minggu 17 September 2017
Oleh : Albertus Joseph Noegroho

Dalam setiap budaya dimuka bumi ini setidaknya ada tiga kata yang selalu diajarkan sejak usia dini: terima kasih, tolong dan maaf. Kendati demikian, tidak mudah pula menjalankannya setelah dewasa. Kata yang paling sulit untuk dikatakannya adalah maaf dan yang paling sulit untuk dilakukan adalah memaafkan. Memang tidak mudah minta maaf apalagi memaafkan orang lain. Pepatah menyatakan, “to err is human, but forgive is divine”, berbuat salah dan dosa adalah kodrat kemanusiaan, tetapi mengampuni adalah kodrat Illahi. Allah Bapa yang dalam Yesus Kristus telah mewahyukan pengampunan sebagai kabar gembira dan warta pembebasan. Itulah cara untuk meretas jalan baru, memutus mata rantai balas dendam dan kekerasan. Yesus tak hanya mengajarkan tetapi melaksanakannya dalam pengajaran dan teladan hidupnya. Bahkan disaat saat akhir ketika meregang nyawa, yang terucap adalah kata kata pengampunan,:” Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Ia mengatakan kepada Petrus untuk mengampuni 70×7, ini berarti pengampunan tanpa batas karena “Tuhan adalah pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” Melalui pembaptisan, kita semua telah dipanggil dan diangkat menjadi anak anak Allah serta mendapatkan anugerah hidup Ilahi. Salah satu ukuran menilai diri sendiri sejauh mana kita telah menjadi Anak Allah dan hidup Ilahi telah merasuki diri kita adalah kemampuan untuk mengampuni. Semakin meningkat kemampuan kita untuk mengampuni, maka semakin meningkat pula kualitas hidup Ilahi dalam diri kita. Cinta Allah yang sempurna terwujud dalam belas kasihan-Nya yang tiada batas. Entah sudah berapa kali telah kita daraskan doa Bapa Kami. Semoga setiap kali mendoakannya, kita juga serius memohon rahmat agar kita bertumbuh dalam belas kasih Allah dan dimampukan untuk mengampuni.

Butir Permenungan

Jenderal George Washington mempunyai seorang sahabat yang baik, seorang pendeta Gereja Baptis. Pendeta itu mempunyai seorang musuh dikota itu yang melakukan segala sesuatu untuk merusak nama baiknya. Setelah beberapa tahun, orang jahat itu ditangkap karena pengkhianatan dan dihukum mati. Ketika pendeta mendengar hal itu, ia berjalan kaki 70 km ke ibukota untuk memohon keringanan hukuman pada orang itu. Tetapi Washington berkata ” Tidak, saya tidak menyerahkan kepadamu hidup sahabatmu” Ujar sang pendeta “Sahabatku? Dialah musuhku yang paling keji ” Lalu Washington terperangah “Anda bermaksud mengatakan bahwa engkau telah berjalan kaki sejauh 70 km untuk menyelamatkan hidup seorang musuh? Sikapmu menempatkan persoalan ini dalam sudut pandang yang lain. Dengan ini, saya memberi pengampunan kepadanya.”Yesus dalam Injil hari ini berbicara tentang pengampunan, Pengampunan itu harus bersifat sempurna dan tanpa syarat, oleh karena itu, orang yang sudah menerima pengampunan tanpa syarat, memiliki kewajiban kewajiban untuk mengampuni orang lain juga tanpa syarat, seperti pendeta dalam cerita diatas yang mengampuni orang yang menyakitinya tanpa syarat apapun.

Selamat beraktivitas di hari Minggu ini. Tuhan memberkati.


Siraman Rohani oleh Rm. Fredy Jehadin, SVD di Seminari Tinggi Bomana, Keuskupan Agung Port Moresby,

Comments

comments