Gereja Theresia

Sakramen Perkawinan

“Tuhan yang telah menciptakan manusia karena cinta, juga memanggil dia untuk mencinta, satu panggilan kodrati dan mendasar setiap manusia. Manusia telah diciptakan menurut citra Allah, yang sendiri adalah cinta. Oleh karena Allah telah menciptakannya sebagai pria dan wanita, maka cinta di antara mereka menjadi gambar dari cinta yang tak tergoyangkan dan absolut, yang dengannya Allah mencintai manusia. Cinta ini di mata Pencipta adalah baik, malahan sangat baik. Cinta Perkawinan diberkati oleh Allah dan ditentukan supaya menjadi subur dan terlaksana dalam karya bersama demi tanggung jawab untuk ciptaan: “Allah memberkati mereka dan berkata kepada mereka: Beranak-cuculah dan bertambah banyaklah; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kej 1:28).” ~Katekismus Gereja Katolik- 1604

KETENTUAN KHUSUS GEREJA ST. THERESIA

Restorasi Gereja 2014

  • berrhubung akan ada pekerjaan restorasi Gereja, maka mulai Rabu Abu, 5 Maret 2014 sampai dengan 31 Juli 2014, tidak ada pelayanan pemberkatan perkawinan di Gereja St. Theresia.
  • Sesudah selesai restorasi, gereja bisa dipakai lagi untuk Perkawinan. Pemberitahuan lebih lanjut akan disampaikan pada waktunya melalui Warta Paroki dan Website Paroki.

Pemberkatan Perkawinan hari Minggu pk 14.00

  • prioritas untuk pasangan yang berdomisili di wilayah paroki St. Theresia (salah satu atau keduanya).
  • Domisili yang dimaksud dapat dibuktikan dengan membawa foto copy KK Paroki yang sah dan berlaku serta tercatat dalam database paroki.
  • Warga Baru bisa mengurus KK Paroki melalui Ketua Lingkungan. Info lebih lanjut bisa ditanyakan kepada Sekretariat Paroki.

Selain melengkapi syarat administratif, disarankan Calon Pengantin bertemu dengan Pastor Paroki minimal 3 bulan sebelum hari Pelaksaaan.

Prosedur Pernikahan di Gereja Katolik

A. TAHAP PERTAMA

  1. Pendaftaran pernikahan di Gereja melalui Sekretariat pada paroki masing-masing pada hari kerja (hari kerja dan waktu buka sekretariat disesuaikan masing-masing paroki
    Membawa surat pengantar dari lingkungan calon mempelai (baik pria dan wanita). Dalam hal ini Surat Pengantar untuk mengikuti KPP (Kursus Persiapan Perkawinan)
    Membawa Foto Copy Surat Baptis yang diperbaharui :
    • Katolik dengan Non Katolik – Salah satu calon mempelai yang beragama Katolik
    • Katolik dengan Katolik – kedua calon mempelai wajib melampirkannya
  2. Surat Baptis yang diperbaharui berlaku 6 bulan sampai dengan hari H (Pernikahan)
  3. Membawa Pas Foto 3×4 masing-masing 3 lembar
    Menyelesaikan Biaya Administrasi KPP (Kursus Persiapan Perkawinan), besar biaya disesuaikan paroki masing-masing. Dan hal-hal yang berkaitan dengan pendaftaran KPP, bisa ditanyakan di sekretariat maing-masing paroki.

B. TAHAP KEDUA

  1. Selesaikan prosedur Tahap Pertama
  2. Mengisi formulir dan menyerahkan berkas-berkas pernikahan, yaitu:
    1. Surat pengantar dari lingkungan masing–masing
    2. Sertifikat Kursus Persiapan Pernikahan yang asli dan fotokopinya
    3. Surat baptis asli yang telah diperbaharui
    4. Foto berwarna berdampingan ukuran 4×6 sebanyak 3 lembar
    5. Fotokopi KTP saksi pernikahan 2 (dua) orang yang Katolik
  3. Kedua calon mempelai datang ke Romo ybs untuk melakukan pendaftaran penyelidikan kanonik (harus datang sendiri, tidak dapat diwakilkan)
  4. Bagi calon mempelai yang belum Katolik dan atau bukan Katolik, harap menghadirkan 2 (dua) orang saksi pada saat penyelidikan kanonik untuk menjelaskan status pihak yang bukan Katolik. Saksi adalah orang yang benar-benar mengenal pribadi calon mempelai yang bukan Katolik dan bukan anggota keluarga kandungnya.
  5. Apabila kedua calon mempelai dari luar Paroki/Gereja dimana domisili calon mempelai harap membawa surat delegasi/pelimpahan pemberkatan pernikahan dari Pastor/Romo setempat (tempat Penyelidikan Kanonik

C. PERNlKAHAN CATATAN SIPIL

  1. Datang ke sekretariat Gereja sebulan sebelumnya untuk pengurusan pernikahan catatan sipil dengan membawa: (Bila catatan Sipil dilakukan di Gereja setelah Pernikahan)
    1. Surat pengantar dari Kelurahan untuk pendaftaran perkawinan
    2. Fotokopi KTP dan Kartu Keluarga Kelurahan kedua belah pihak
    3. Fotokopi Akta Kelahiran kedua mempelai
    4. Fotokopi SKBRI (WNI). Jika tidak ada, bawa SKBRI/WNI orang tua
    5. Untuk umat keturunan – Fotokopi Surat Ganti Nama (Bila tidak ada, lampirkan Surat Ganti Nama dari. orangtua)
  2. Pas foto berdampingan ukuran. 4 x 6 sebanyak 6 lembar
  3. Akan dibuatkan pengumuman ke kantor Catatan Sipil sesuai KTP yang bersangkutan dari calon mempelai. (kebijakan ini tergantung catatan sipil setempat)
  4. Pada hari “H”, Akta Kelahiran asli kedua mempelai dan Surat Pemberkatan Nikah Gereja diserahkan kepada petugas Catatan Sipil
  5. Pencatatan pernikahan sipil bisa diurus oleh mempelai sendiri atau oleh Pihak Gereja.

D. BIAYA

  1. Untuk besar Biaya disesuaikan dari kebijakan masing-masing Paroki yang bersangkutan dimana akan diadakan pernikahan tersebut. Biaya tidak terikat dan khusus bagi mereka yang kurang mampu, dapat menghubungi Romo Paroki yang bersangkutan, untuk mendapatkan keringanan, dan bahkan bagi yang sama sekali tidak mampu diberikan kebebasan “semampunya” untuk mengganti biaya-biaya Administrasi.
  2. Biaya-biaya tersebut digunakan untuk :
    1. Pembayaran biaya-biaya administrasi, listrik Gereja terlebih bila Gereja tersebut ber-AC
    2. Pencatatan Pernikahan Catatan Sipil bila dilakukan di Sekretariat Gereja dan Biaya transport untuk Petugas dari Catatan Sipil setempat.
  3. Mintalah Tanda Bukti Pembayaran dari pihak sekretariat.
  4. Biaya-biaya diluar Kesekretariatan yaitu:
    1. Bunga dekorasi
    2. Sumbangan tanda kasih untuk Paduan suara – langsung kepada dirigen/pimpinan Paduan Suara
    3. Iuran Stolae bagi pastor/Romo yang memimpin upacara Pernikahan (yang sepantasnya berlaku umum). Iuran Stolae diletakkan di dalam keranjang buah persembahan. Jika pernikahan dilangsungkan dalam pemberkatan (bukan misa), Iuran Stolae diberikan langsung kepada imam setelah pernikahan.

TIPS menghemat Biaya pernikahan

  1. Tidak menggunakan Weddings Organizer
  2. Bisa menggunakan fasilitas Kapel (bila terdapat kapel) sehingga biaya operasional gedung gereja lebih effisien (karena Kapel tidak terlalu besar baik dari segi ukuran bangunan maupun penggunaan Daya listrik (Ac bila ada)).
  3. Bila mempelai adalah anggota Paduan Suara (koor), bisa meminta bantuan team Paduan Suara / koor-nya
  4. Tidak menggunakan dekorasi bunga secara berlebihan

Catatan:

  1. Weddings Organizer di luar tanggung jawab gereja dan tidak diperkenankan campur tangan dalam urusan liturgi di gereja.
  2. Jika upacara pernikahan dirayakan dalam misa kudus hari Minggu, maka liturgi yang di gunakan adalah liturgi hari Minggu yang bersangkutan.
  3. Persembahan untuk misa adalah: roti dan anggur, buah, bunga (Lilin tidak!)
  4. Mempelai dimohon mempersiapkan lektor untuk membaca doa umat dan 4 orang pembawa persembahan.
  5. Format teks pernikahan yang berlaku biasanya disediakan di paroki masing-masing (bisa hubungi pihak sekretariat paroki.
  6. Jika ada sumbangan sukarela untuk kas putera altar, diletakkan di dalam keranjang buah dengan keterangan yang jelas. Tidak diperkenankan memberi langsung kepada putera altar yang bersangkutan (jika hanya pemberkatan langsung diserahkan kepada imam yang bersangkutan).
  7. Tidak ada biaya untuk koster dan pihak sekretariat secara pribadi.
  8. Permintaan surat baptis yang diperbaharui atau surat-surat lainnya kepada pihak sekretariat dikenai sumbangan sukarela yang langsung dimasukkan dalam kotak sumbangan administrasi yang disediakan di kantor sekretariat.
  9. Hal-hal khusus lainnya langsung ditanyakan kepada pastor paroki

E. PERSIAPAN-PERSIAPAN DAN KELENGKAPAN LAIN

Yang perlu dipersiapkan oleh Pengantin ialah

  1. Bentuk Panitia dari keluarga (2-3 orang)
    Salib, Rosario dan Kitab Suci
  2. Persembahan: buah-buahan, dan bunga persembahan
    Bunga untuk Bunda Maria
  3. Menentukan/memilih kelompok Paduan Suara/Koor
  4. Buku Panduan Pernikahan (harap dikonsultasikan dahulu dan mendapat persetujuan dari Pastor/romo yang akan memberkati)
  5. Cincin Perkawinan kedua mempelai
  6. Saksi Pernikahan
  7. Dekorasi bunga (Lihat biaya diluar kesekretariatan)
  8. Putera Altar akan disiapkan dari Gereja.
  9. Segala perlengkapan Gereja (kecuali yang disebutkan diatas) akan disiapkan oleh Koster Gereja

Kebijakan Paroki Tentang Pernikahan Pada Masa Khusus

Pada prinsipnya gereja dilarang merayakan misa ritual pada hari Minggu selama masa khusus. Aturan ini tercantum dalam Misale Romanum terbaru art. 372. beberapa hal yang harus diperhatikan melalui pernyataan di atas adalah:

  1. Misa ritual adalah perayaan yang berkaitan dengan sakramen (mis: pernikahan) atau sakramentali (pemberkatan rumah).
  2. Masa khusus meliputi:

Adven

Masa persiapan kita untuk menyongsong pesta Natal (hari kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus); sekaligus masa penantian eskatologis (kedatangan Yesus Kristus yang kedua kalinya, yaitu dalam kemuliaan-Nya pada akhir jaman).

Rabu Abu

Abu adalah sisa-sisa pembakaran daun palma yang telah kering yang berwarna hitam. Dalam Kitab Suci, abu antara lain mengungkapkan:

  1. sesuatu yang tidak berharga;
  2. kesengsaraan;
  3. kerendahan diri di hadapan Allah (bdk. Kej 18:27);
  4. Dalam upacara Rabu Abu (awal masa prapaskah) dahi kita diberi abu untuk mengungkapkan kelemahan dan dosa kita yang ditandai dalam proses matiraga (puasa dan pantang) dan tobat.

Prapaskah

Mempersiapkan para calon Baptis untuk memberi arti dan menghidupi sakramen Baptis yang akan mereka terima pada Hari Raya Paskah/Masa Paskah.
Mempersiapkan seluruh umat beriman akan Yesus Kristus untuk bisa lebih memaknai dan menghayati hidup dalam persatuan dengan sengsara-wafat-kebangkitan-Nya.

*Pekan Suci (Minggu Palma – Kamis Putih – Jumat Agung – Sabtu Suci -Malam Paskah – Minggu Paskah) *

Minggu Palma

Perayaan kemenangan Kristus Raja dengan penyambutan-Nya di Yerusalem; sekaligus pewartaan penderitaan-Nya sebagai jalan menuju kemuliaanNya.

Kamis Putih

Mengalami kembali tiga peristiwa penting, yaitu:

  1. persembahan Tubuh dan Darah-Nya dalam rupa roti dan anggur kepada Bapa dan para rasul sebagai makanan dan minuman yang berdasarkan Kasih-Nya kepada dunia (pendirian sakramen Ekaristi);
  2. penugasan para rasul dan penggantinya dalam imamat yang juga dipersembahkan sebagai kurban;
  3. perintah Yesus mengenai Kasih Persaudaraan.

Jumat Agung

Merenungkan sengsara Tuhan Yesus Kristus, domba kurban kita yang dipersembahkan dan kita menyembah salibNya (lih. 1Kor 5:7) melalui Sabda yang diperdengarkan untuk kita semua. Gereja mau menampilkan keikutsertaannya pada detik-detik terakhir sengsara dan wafat Yesus. Dan lewat Sabda yang dibacakan hari itu terungkaplah kekayaan teologi salib pengorbanan total Allah untuk kita.

Perenungan ini berangkat dari luka Kristus yang wafat pada salib disertai dengan doa bagi keselamatan seluruh dunia. Sifat Jumat Agung yang demikian ini menyadarkan kita untuk menghayatinya secara khusus sebagai hari tobat.

Sabtu Suci

Merenungkan penderitaan, wafat, dan turunnya Kristus ke alam maut / dunia orang mati (lih. 1Pet 3:19). Saat itulah Yesus mewartakan keselamatan kekal kepada mereka yang mati sebelum Kristus hadir secara fisik.

Begitu pentingnya makna Sabtu Suci ini sehingga tidak deperkenankan mengadakan sakramen-sakramen kecuali sakramen tobat dan sakramen pengurapan orang sakit (lih. Litterae Circurales De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrands art. 75).

Malam Paskah

Merupakan malam tirakatan (vigili) bagi Tuban (bdk. Kel 12:42 sikap berjaga-jaga bangsa di Israel yang akan dibebaskan dari perbudakan Mesir). Tirakatan ini diadakan untuk mengenang malam kudus Tuhan yang bangkit.

Perayaan ini harus dilaksanakan pada waktu malam dan berakhir setelah fajar Minggu. Seperti umat Israel yang dibimbing oleh tiang api saat keluar dari Mesir, demikian juga orang-orang Kristiani pada gilirannya mengikuti Kristus Sang cahaya abadi dalam kebangkitan-Nya.

Paskah

Hari raya kebangkitan Tuhan telah tiba! Dengan demikian misa Minggu Paskah HARUS dirayakan dengan meriah.

Oktaf Paskah

Delapan hari khusus gereja untuk merayakan puncak dan inti iman kita akan Yesus Kristus yang bangkit untuk kita.

Peringatan arwah semua orang beriman (setiap tanggal 2 November)

Peringatan Gereja secara khusus bagi semua orang yang telah meninggal dunia untuk memperoleh indulgensi (kemurahan hati atau pengampunan Allah) mela1ui doa-doa yang kita panjatkan.

Berdasarkan makna dan suasana masa khusus dari dua dokumen liturgi, yaitu: Misale Romanum dan Litterae Circurales De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrands, Biasanya ada kebijakan (tergantung paroki setempat) berkaitan dengan perayaan upacara pernikahan, sbb:

Pernikahan dalam masa Adven

Dalam masa Adven dan Prapaskah masih diijinkan untuk melangsungkan upacara pernikahan dengan memperhatikan kesederhanaan. Ukuran kesederhanaannya adalah:

A. Masa Adven

Gereja

  • Hiasan bunga diijinkan hanya di sekitar altar.
  • Tidak menggunakan karpet di lorong.
  • Tidak ada hiasan bunga di sepanjang lorong menuju altar.
  • Tidak ada hiasan bunga di pintu masuk gereja.
  • Warna liturgi mengikuti masa yang berlaku

Imam dan mempelai

  • Kasula imam berwarna putih.
  • Mempelai diperkenankan membawa bunga tangan.
  • Diperkenankan mempersembahkan bunga di patung Maria.

B. Masa prapaskah

Gereja

  • Hiasan bunga TlDAK DIIJINKAN sama sekali dan diganti dengan dedaunan secukupnya di sekitar altar.
  • Tidak menggunakan karpet di lorong
  • Tidak ada hiasan bunga di sepanjang lorong menuju altar
  • Tidak ada hiasan bunga di pintu masuk gereja
  • Warna liturgi mengikuti masa yang berlaku
  • Orgen/alat musik lainnya hanya bersifat mengiringi lagu (tidak ada instrumental)
  • Lagu-lagu juga tidak sebanyak masa liturgi umum (dikonsultasikan dengan imam)

Imam dan mempelai

  • Kasula imam berwarna putih
  • Mempelai diperkenankan membawa bunga tangan
  • Diperkenankan mempersembahkan bunga di patung Maria

Dalam upacara Rabu abu, pekan suci, oktaf paskah, dan peringatan arwah semua orang beriman 2 November TlDAK DIIJINKAN untuk melangsungkan upacara pernikahan.

Kebijakan ini akan berubah (bersifat tentatif) setelah dokumen khusus tentang pernikahan dari KWI mendapat pengesahan dari Vatikan dan diberlakukan di Keuskupan-keuskupan di Indonesia.

dari www.imankatolik.co.id

Comments

comments